
Banyak sekali yang berkecamuk di pikiran ku akhir-akhir ini. Setelah aku menjalani masa-masa jobless selama hampir 2 minggu, aku mulai mencari kegiatan yang menurutku menyamankan dan menenangkan. Sampai saat aku membaca sebuah novel yang menurutku sangat mengharukan. Aku sangat menyukai romantisme. Tapi sejujurnya ku katakan bahwa aku bukanlah tipe yang roman. Sahabatku mengatakan bahwa aku ini orangnya seperti patung. Diam dan tidak pandai berbicara.
Sedikit pembelaan, bahwa diriku bukan tidak pandai berbicara, tapi aku termasuk tipe yang sangat sulit membangun suasana. Jika aku berpergian dengan seorang pria, maka aku akan diam dan sulit berkomentar apapun. Terkesan sangat dingin dan kaku.
Aku tidak pandai berbicara roman. Tapi aku sangat memimpikan kehidupan asmaraku yang penuh dengan romantisme. Apakah mungkin?
Ku rasa tidak, tidak tanpa disertai keinginan ku untuk ikut menjadi seorang yang romantis. Setelah membaca buku ”Autumn in Paris” aku tersadar akan satu hal. Bahwa di dunia ini ternyata ada yang begitu indah, hanya bagi sebagian manusia hal itu disebut cinta tetapi bagi sebagian disebut sebagai tragedi.
Aku mengerti satu hal, bahwa cinta tidak mengenal usia maupun orang. Dan seperti itukah yang kurasakan pada dia? Kurasa belum. Aku tidak tahu sejauh mana aku mengenalnya. Tidak pada dirinya maupun diriku. Berkali-kali aku menarik kesimpulan bahwa kami adalah teman. Tapi sejarah masa lalu terus mengekang benakku. Aku ternyata mengharapkannya. Mengharapkan seseorang yang sudah berpaling jauh. Aku tidak tahu kapan aku harus berhenti ataukah harus terus melangkah. Aku bimbang..... Terjerat di jalan tanpa akhir. Ku harap ini terakhir kalinya aku menulis tentangnya. Aku ingin melupakan segalanya. Apakah mungkin bisa? Bisa tanpa aku harus bertemu dengannya dan mengatakan langsung kepadanya? Aku benci kenyataan, kenyataan selalu pahit dan datangnya bertubi-tubi. Aku takut jika aku pergi ke sana, aku akan mencarinya lagi. Kemudian berharap dan menunggunya. Terus berulang hingga tidak ada akhir....Maafkan aku. Seandainya ada dewa penolong, aku pasti akan berani mengatakanny kepadamu. Butuh keberanian yang cukup besar tahu untuk mengatakannya.
Aku harus membuka lembaran baru. Tidak ada gunanya terus menoleh ke belakang. Jika menoleh terus ke belakang aku tidak akan pernah tahu siapa yang akan menarik tanganku di depan. Jika aku terus berharap, dan menutup mataku aku tidak akan pernah menemukan matahari indah sedang bersinar di luar sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar